Malaikat Hitam
Belenggu mengekang…..
Beku hamparan waktu membatu didepanku
Kusambut lirih rintihmu dengan torehkan luka dinadiku
……….”Minumlah, dahagamu hanya kan terbasuh olehku…”
Purnama kali ini adalah kesedihan, digerayangi kecewa dan kepedihan….
Iringilah langkahku, walau onak-duri merobek tapak kaki
Pekat darah telah membaptis nestapa dalam getah dosa
Membai’at kesadaran dalam keruh waktu melaju
Genggamlah percaya….agungkanlah jiwa…..
Sebab penuntun adalah kesadaran…..bukan aku dan setapak kecil yang terjalani
Cintailah luka, sayangi kecewa….cukupkan rasa permainkan imaji
Hidup bukan rengekan cengeng dari tangisan bayi,
Kuhamparkan nyawa pada altar keabadian tuk selamatkanmu….
Penebusan atas ribuan sakit yang teralami
Perih ini hanya secuil kecil dari makna penyaliban
Dengan tiang pancang terbalik dan langit yang berlutut dikakiku
Kecaplah, hingga pahit-manis tinggal ilusi
Dan malam tinggal selubung tak berbingkai.
*Untuk perih yang menikam ulu hati, tengah malam buta 01 Des’2008