Akhir Hujan
Akhir hujan……
Disudut gelap dan ketinggian kurangkai kembali jutaan repih benak
Memintal kata……hembuskan resah dalam desah
Berusaha mengusir dingin dan pengap dari tembok kesendirian
Jauh diseberang pandangku, jendela buram biaskan bayangmu
Masih seperti dulu, hanya silhoutte tubuh dan gerai rambutmu
Sayup isak terdengar sertai getarmu…………..
“Apa yang kau tangisi, wahai silhouette malam”
Pertanyaan yang selalu kusertakan pada angin
Berharap lirihku terdengar olehmu………
“Apakah kita terjerat dalam kesepian yang sama dalam ruang-waktu berbeda”
Hanya kosong tanpa jawab………
Purnama membayang diantara mendung pekat,
Malam begitu dalam menyimpan misteri
Dan kita sama terpasung dalam gelap tak bernama
Terpisah jutaan jaman ketika awal mengakhiri segalanya…
Gerimis perlahan menisik permukaan
Ribuan bulir kenangan terhempas…pecah menggenang…..
Telah usai doa……..
Telah hilang harap……..
Kusambangi ribuan jaman mencari wujudmu
Berharap kutemui jiwamu terperangkap dalam jasad
Agar kusambut dan raih jemarimu
Menuntun lentikmu menyentuh bibirku
Namun hanya hampa…..hanya kecewa……….
Bayangmu selalu pergi kala kuhampiri
Sisakan desir beku, meninggalkan kekosongan tak terbilang
Seribu jaman kusambangi
Hanya pualam tua terpahat namamu
Rapuh berlumut belatung jaman
Ditengah puluhan makam dan jejeran nisan
Diantara belukar dan tepian pepohonan muram meranggas.
Akhir hujan,
Purnama kali ini kuteriakan namamu
Melolongi jaman demi jaman yang kulalui
Hanya silhouette tubuh dan gerai rambutmu……
Hanya syahdu isakmu bergetar iringi tangismu,
“Apa yang kau tangisi, wahai silhouette malam”
Kita jiwa yang sama terperangkap dalam sunyi,
Dalam ruang-waktu berbeda…………
Dalam pencarian cinta yang tak kunjung usai……..
*Insomnia, 24 Dec’ 08
hole of light stole the beauty my dear
suzein — January 2, 2009 @ 9:09 am