Langit Jagakarsa, 19 April’07
Dingin menusuk…jerang sepi dini hari
Ingin rasa merutuk dan menghujat waktu,
Ya, waktu…..karena belitannya erat melilitku
Eksistensiku…rutinitasku….
Dan muram kembali meruapkan minor nadi waktu.
Sampai kapan seperti ini ?
Aku berjalan mengikatkan diri dalam dekapmu hanya tuk menanti penghabisanku……..
Sudah terlalu muak…terlalu sepi…terlalu banyak duka meracuni
Haruskah menunggu hati meraung perih karena ke-egoisanku ?
Ada ribuan syukur dan kesal ketika menguak pagi,
Terlalu sering mencumbui maut, menentang arus,
Merubahku menjadi bebal dan mendera diri !!!!
Toh tetap saja batas tak kutemui….
Raut wajah yg kutemui dibatas cakrawala masih mengalahkan kalut,
Hanya untuk mereka aku berusaha bertahan..berbuat…berbuat…
Coba menggurat kebajikan disetiap sudut yg kutemui,
Untukmu….untuk bekalmu kelak,
Agar kelak ketuban tak pecah percuma.
Masih mendekap sepi penghujung pagi…
Memandang iri pada sayap-sayap yg kembali keperaduanmu
Setelah mengguratkan mimpi dan mendongengkan kisah
Kembali ke peraduanmu, memandang wajahmu dalam takjub dan khusu’
Dan aku………………………….?????
TERKUCIL DARI PERADUAN MALAM,
TERPENCIL DIPENGHUJUNG PAGI,
TERPEROSOK DALAM KUBANGAN DOSA !!!!!!!!!!!
// Bunuh aku….!!!
diantara gelak tawa dan canda
aku mendapati ada nanar merah di matanya
diantara berbagai ekspresi wajah
aku mendapati sebuah senyum di bibirnya
di dalam diam nya
aku mendengar ada doa yang terucap
tanpa berucap apapun
aku bisa melihat ada rasa senang dan bahagia
mencoba tuk memahami rutinitas dan eksistensi seorang insan
-' meytri '- — April 19, 2007 @ 11:43 pm
Lelah…….
Sinner — April 20, 2007 @ 4:17 am