Kemarin gw melihat banyak kesedihan, suka-cita, amarah, dan luka.
Semua merutuk…semua protes…!!!!
Banyak yg menyalahkan pemerintah….atau meratap pada Tuhan.
Pantaskah ?????
Terlalu sering kita mencari kambing hitam pada setiap masalah yg kita hadapi (napa ga nyari kambing abu2? xixixiixixixixiix)
Padahal kalo mo dipikir nih, segala sesuatu itu semua berasal dr diri kita sendiri, apa yg kau tanam kini kelak kau petik nanti…tinggal menanti sang waktu mengejutkanmu.
Minggu kemarin, separuh
Jakarta
terendam banjir…well, bawaannya byk yg mimpi basah (heuheuheuhuehue…mimpi sambil tdr dirmh yg kebanjiran maksudnah).
Partai2 berlomba ngibarin bendera ditiap daerah banjir, pengen memperlihatkan kalo mereka yg paling peduli ma rakyat. Cagub n’ tokoh masyarakat berlomba mengulurkan bantuan (nyari suara yahk xixixixiix), Gubernur dan Pemda kasak-kusuk mencari apa(siapa) yg dapat ditunjuk untuk menutupi kesalahan…sampe2 untuk membuka salah satu dari pintu air mesti dgn cara dramatisir kaya sinetron ; nelpon menteri dan minta persetujuan presiden xixixixixiixixixixixiixi….
C’monnnnnn……….buka mata kita, jgn sampe kita jadi objek mereka memancing diair comberan !!!!
Mestinya kita nanya ke diri kita masing2, apakah benar semua salah pemerintah ? Salah Ciliwung ? Salah Bogor ? Salah Setu ? Salah sistem Drainase ? Salah pendatang yg nyesakin
Jakarta
?
Sudah benarkah kita ketika membuang sampah bukan pada tempatnya ?
Udah bener ga sistem prioritas pemerintah dalam melayani masyarakatnya ?
Apakah sudah cukup tempat sampah diseputar kita ?
Apa mesti melulu cuma pembokat yg selalu ngontrol n’ bersiin selokan depan rumah ?
Udah bener ga sistem pembangunan dan tata
kota
?
Seberapa banyak daerah terbuka dan resapan air ?
Atau seenaknya kita bisa membuang sofa dan kasur kedalam sungai ? (Kaya beberapa foto yg sempat gw take dipintu air Manggarai).
Mungkin kanak-kanak bakal bersukaria bermain air didepan rumah, tp yg dewasa pasti bersungut-sungut menyapu air dr dlm rumah.
Dan yg paling lucu n’ bisa saja terjadi adalah ketika salah satu dari kita menyalahkan daerah puncak yg semakin sesak dgn
vila
serta mall-mall yg membludak di
Jakarta
Raya.
Tapi pernah ga kita bertanya, bukannya kita (mungkin) jadi salah satu dr golongan yg menikmati semua itu ????
Dan setelah banjir datang, kita dgn munafik menunjuk sesuatu yg menjadi santapan kita sehari-hari….buang sampah seenaknya, beli or nyewa
vila
dipuncak tiap akhir pekan, n’ berbondong-bondong menyesaki mall yg bertaburan dgn warna2.
Xixixixiixixixixixixiixixixixi…coba deh kita bertanya pada diri kita masing2 n’ kesampingkan kemunafikan kita !
Satu lagi….sekali waktu gw denger kalo pemerintah bakal membangun
kota
n’ daerah aliran sungai kaya sistem pembangunan dinegeri Belanda n’ beberapa negara eropa…..xixixixiixixixi
Mimpi kali yeeeee………??????
Kenapa ga buka dulu wawasan lingkungan masyarakat biar ga seenaknya mengotori sungai ?
Kenapa ga majukan dulu kesejahteraan dan sediakan pemukiman yg layak buat masyarakat
kota
biar ga seenaknya mengotori dan mendirikan pemukiman kumuh dibantaran sungai ?
Atau kita memang ditakdirkan jadi Bangsa yg bebal dan hanya mementingkan kepentingannya doang ?