Kesiap sepi sejenak,
Ada luka yg menganga, ada geram tak bertenaga…
Perih rajai kepalan tangan,
Muak dengan ketulusanku….
Jijik dengan kebohonganmu !!!!!!!!!!
Setan tertawa manja, aku terbujur dalam dekapmu
Rasa letih menjalari nadi…secepat itu cerita pergi,
Membekas dan remukkan hari tanpa warna-warni.
Usaikanlah, tak perlu ada cerita sertakan namaku
Anjing jalang ini payah merayapi hari dengan kebohonganmu
Terkapar….teronggok….dan dosa meracuniku.
Kemarahanku bukan jalan geram ‘tuk merutuk keadaan
Ada jiwa lain yg ingin kuselamatkan…yg mungkin rusak karena egomu !
Senyum penuh arti, tangis membayangi…
Airmata palsu dibalik wajah abu-abu, sadarkanku,
Pergilah….aku tak dapat dimiliki kesumatmu !!!!!!!
Jika ingin mencintaiku, bebaskan dirimu !!!!!!
Resah dan perih hanya buah ketololanmu…
Dan lidah ini tak cukup payah tuk ingatkanmu,
Lakukan saja apa yg terbaik untukmu…aku bukan lagi bagian harimu !
Tak perlu miliki aku………..
Aku selamanya milik malam…roh semesta,
Tak perlu selamatkan aku, urus saja dirimu…
Aku selamanya bergayut dengan bahaya,
Maut adalah bayang yg tak pernah melepasku barang sedetik.
Matahari suram semakin buram….
Merah darah cakrawala dilangit Jagakarsa.
Senja kaburkan pandangku,
Perlahan bayangmu meredup…..sirna….sirna….dan sirna,
Hanya selimut gelap yg perlahan mengganti tahta sang surya.
Selamat tinggal, Airin….jika jalan waktu pertemukan kita kembali, kuharap kau lebih baik dari hari ini.
(Doa terakhir yg kupanjatkan untukmu pada senja, dilangit Jagakarsa.)