Suatu ketika…..
Fajar belum lagi menjemput kalam malam
saat engkau datang di penghujung Ramadhan,
Bertudung temaram langit malam
dan bias cahya rembulan terpencar di garis wajahmu.
Raut itu…….setenang telaga kala membayangkan nyata wujud purnama,
Adakah kau Lailatul Qadr yang menjelma nyata dalam wujud seorang hawa ?
Ataukah………
Titisan doa yang telah menggetarkan Arsyi dalam setiap pengharapan yang kupanjatkan ?
Entahlah,
Namun seketika hadirmu menyejukkan hatiku
Betapa tak ingin sekejap pun terlewati tanpa berkaca di bayang matamu
Betapa tak bosan ku tertegun menatap lelapmu di jerang malam
Tuturmu sesejuk embun kala ingatkan aku tuk merengkuh kasih-Nya
di setiap jengkal masriqh dan magrib…….
Tiada apa kupinta darimu
Atau memberikan sepenggalan cinta untukku,
Tidak …….Bukan itu, Wahai Annisaa….
Kau adalah malaikat penetes embun awal pagi
Meredakan kerontang wajah bumi, membangunkan jiwa-jiwa dalam lelap
Jemari itu letakkan cinta di puncak cadas hati
Akupun luruh………………dan bersimpuh,
Izinkan aku mengecap arti hidup, Wahai Penggenggam Kesejatian
Kau terbitkan kembali matahari karam di ulu hati
Dan aku menyadari batasanku…………
Sebab aku tak pernah memiliki keindahan-Mu,
Mungkin sekedar memuji keluasan-Mu
Lewat cinta yang Kau titipkan pada sosok seorang hawa.
Sepenggal kata tak bermakna,
Untuk perempuan bertudung malam