Keberadaan bertanya padaku ; Pernahkah aku
merasa sendiri ?
Tetapi bukankah aku memang selalu sendiri ?
Kesendirian bertanya padaku ; Takutkah kau
padaku ?
Apakah aku pernah tak bersetubuh denganmu,
Wahai kesendirian ?
Bukankah kesadaranku adalah benih dari
persetubuhan kita ?
Pernahkah aku mengeluhkan kerasnya
pertarunganku dengan hidup ?
Sedangkan sepanjang luruh nafasku kau
selalu ada
Tak berjeda….
Aku tak pernah ambil perduli dengan
pekatnya bayang malam,
Aku tak pernah terbutakan dengan silaunya matahari,
Lalu apakah aku harus berubah ?
Dengan alasan untuk sebuah pendewasaan ?
Aku ingin berkaca di bayang kepolosan
seorang anak
Yang tak mesti mengenakan topeng untuk
merenda hari,
Aku ingin belajar pada kejujuran yang
sebenarnya
Bukan untuk sebuah pengakuan yang sarat
dengan kemunafikan
Lalu seseorang bertanya….
“Apakah aku mesti berubah, Qie ?“
“Sedangkan jaman telah menyeretku dalam
kecemasan,”
“Apa sebenarnya yang kita tunggu di jalan
kita, Qie ?”
“Terkadang aku berpikir semua tak
berarti….apakah aku harus membuat perubahan ?”
“Mengapa semua ingin di mengerti sedangkan
mereka tak coba tuk mengerti ?”
“Apa aku harus membuat benteng ketidak
pedulian ?”
“Terkadang aku terlalu
lelah,Qie….capek……penat…..”
Dan malampun menelan suara-suara itu hingga
tersisa gema,
Sesaat aku berhela…..
Pernahkah kau sadari, jika kita tidak
sedang menunggu ?
Kita hanya sedang tak ingin mengikuti
kehancuran jaman…
Degradasi moral dan materialitas nilai
Mencoba jujur dengan diri kita, tanpa harus
memandang dari segi materi.
Jika lelah telah memintamu tuk meretas kesadaranmu,
Ikuti saja kata hati….atau sekalian
terbakar dalam kehancuran !!!!!!
Memang susah bertahan dalam derasnya arus,
Pilihan itu ada di telapakmu…..
Namun jika memang harus berubah,
berubahlah….
Semoga kesadaran dan jati dirimu tidak ikut
mampus dalam pilihanmu !!!!!
“Terinspirasi dari serpihan obrolan lisan,
chating, N’ sms-an ma teman-teman yang sempat terekam dalam ingatan.”