Jakarta
, 3 Oktober 2005
Siang tadi aku melihat simpang siur manusia di berbagai pertokoan mewah, di pusat perbelanjaan megah. Tak lama sebelumnya, di dalam bus
kota
aku bertemu dengan 2 pengamen cilik yang coba mengais remah dari satu-dua rupiah……..tragis memang.
Dengan kenaikan harga minyak yang menggila….dengan keputusan pemerintah yang sepertinya tidak dapat mencari jalan lain kecuali menaikkan harga minyak di atas 100%, dapatkah mereka bertahan ?
Ke mana manusia-manusia pintar kita yang katanya sudah lolos test kelayakan dan kemampuan intelektualnya untuk membantu presiden dalam menjalankan amanat yang diembankan rakyat ?
Bisa jadi mereka justru Kapitalis murni !!!!
Hanya berteori tentang ilmu dan gagasan-gagasan yang katanya untuk membangun bangsa tapi buktinya ?
Seharusnya mereka lebih merakyat untuk dapat mengaplikasikan gagasan dan teori-teori yang mungkin saja mereka dapatkan dari literatur-literatur atau berguru melintas 7 samudera, tapi apakah sama tiap kultur dan tatanan masyarakat di tiap tempat ?
Bagaimana mereka tahu apa yang kita butuhkan….apa yang kita mau ? sedangkan kehidupan mereka sudah lebih dari ada !
Mereka tak dapat lagi merasai apa yang dirasakan oleh sekian ratus juta rakyat
Indonesia
karena perut mereka sudah kenyang dan setiap harinya mendem di ruang ber-AC, kenapa tidak sekali-sekali turun ke jalan……tanpa perlu di payungi oleh anjing-anjing penjagamu, jadilah rakyat karena gajimu dari kami !!!!!
Mahasiswa-rakyat……….jangan cuma bisa dengan teriakan dan lemparan batu mengatasnamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia
!!!!
Sudah saatnya menyiapkan konsep untuk Negeri ini, sudah waktunya menyiapkan diri untuk menjaring pemimpin-pemimpin yang benar-benar memimpin……jangan di butakan oleh uang, karena harga diri dan perjuangan kita hanya dapat di ukur oleh kekuasaan Sang Adil.
Jangan lagi kita kecolongan seperti perjuangan pendahulu kita di tahun ’66 atau reformasi ’98 yang tak ketahuan juntrungannya sampai kini.
Sudah menginjak 7 tahun dari awal sebuah perubahan….tapi perjuangan belum usai, belum ada apa-apanya !
7 tahun bukanlah waktu yang sempit untuk proses, karena aku sudah muak dengan kata “Proses” yang notabene hanya untuk melarikan ketidak-siapan kita, kesalahan kita, kemunafikan para pemimpin dan wakil kita………ini sudah terlalu konyol !
Para
petani harus mengeluarkan uang lebih untuk memasarkan hasil pertaniannya ke
kota
, sedang jalur distribusi terhambat akibat langkanya bahan bakar….belum lagi harganya yang selangit.
Nelayan-nelayan termenung menatap kapal ikannya yang tertambat di tepi pantai karena tak mendapatkan bahan bakar, matanya sama kosong dengan perutnya, sedangkan kita…….masih berleha-leha di kedai mewah……masih berlomba mengisi lemari pakaian kita dengan merk-merk yang susah diucapkan dengan lidah, pantaskah ?
Wakil kita ?
Jangan khawatir…………wakil-wakil kita sudah kenyang dengan gaji yang bejibun, belum lagi bakalan banyak sidang untuk membedah keputusan pemerintah yang baru keluar dan itu berarti UANG LAGI, sedang dalam ruang sidang 85%-nya pada molor….
Bukan tidak mungkin dari kesemua ini akan timbul gejolak sosial, entah itu kriminalitas yang semakin menggila karena pendapatan masyarakat yang jauh dari kriteria mampu. Belum lagi korupsi dan pungli yang tak mustahil akan kembali menyemarakkan warna langit
Indonesia
karena gaji PNS dan TNI/Polri tak mampu menutupi kebutuhan pokok anak-istrinya……untuk sekolah dan kepulan asap dapur.
Belum lagi abg-abg yang di besarkan dalam fantasi kapitalis, lewat sinetron dan telenovela yang bisa jadi akan melakukan apa saja untuk mewujudkan mimpi-mimpi kecilnya, walau itu harus melacur untuk membeli ponsel keluaran baru yang mungkin saja bukanlah sebuah kebutuhan yang perlu……………tragis memang !!!!!!!!!!!
Banyak orang…banyak tokoh yang berbicara mengatas-namakan rakyat namun kehidupan mereka tidak pernah bersinggungan langsung dengan rakyat yang katanya mereka bela, ular kepala dua !!!!
Ada
lagi yang sibuk cari muka di depan rakyat, bersikap seolah-olah membela kepentingan kita, tapi ternyata mereka hanya mencari jalan untuk mempermulus jalan ke posisi legislatif/eksekutif………najis !!!!!!!!!!!!!!!!!
Kalau memang untuk rakyat, coba tanya mereka yang berada di posisi legislatif/eksekutif, mau tidak mereka menyisihkan 50% atau 25% dari tunjangan mereka untuk kas negara yang akan dipakai untuk mengatasi biaya pendidikan kita yang semakin mahal, mau tidak ?
Jangan mau di bodohi, sobat !!!!!!!!!!!!
Jangan pernah mau dibeli !!!!!!!!!!!!!!!!
Mari satukan kepalan dan “lawan…….!!!!!!!!!!!!”
Seharusnya kita bisa jadi lebih “bersih” dari mereka……..
Jangan pernah mau menerima lembar-lembar ratus ribu hanya untuk membeli suara kita, sebab hanya duka yang kelak mereka berikan.
Mari duduk sini, kawan……….
Tak perduli gosong kulitmu karena terbakar terik, tak perduli mata sipitmu yang sudah bawaan orok, tak perduli dengan mulutmu yang berbau alkohol, tak perduli rambutmu plontos atau Mohawk, tapi setidaknya kita dapat mendengarkan suara-suara sekitar kita, untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik.